Fotografer Bukan Pemain Utama

ah, akhirnya ada yang mengerti unek-unek saya. walaupun tersentil juga, sebagai media pemegang ID bukan berarti bisa seenaknya.

Felix Dass | felix@felixdass.com

Pertanyaan penting di sebuah pertunjukan musik: Siapa yang paling harus dipuaskan? Band yang main, penonton yang mengapresiasi atau fotografer yang sedang memenuhi egonya?

Fotografer Dodol

Akhirnya saya punya waktu untuk menulis tentang hal ini. Sudah terlalu lama rasanya saya terusik dengan keadaan yang sering terjadi di beberapa pertunjukan musik ketika pandangan orang yang ada di area penonton terhalang oleh orang yang seharusnya tidak dipandang. Rasa terusik itu kok makin tajam ya, kalau dipikir-pikir? Oke, mari kita memulai pemaparan ini.

Pertunjukan musik itu bisa terjadi karena campur tangan beberapa pihak. Ada organizer yang menyelenggarakan acara, sponsor, artis yang main, penonton yang menyaksikan, media yang meliput dan beberapa pihak lain. Masing-masing punya kepentingan dan niatan untuk ada di satu momen yang sama.

Layaknya sebuah benturan kepentingan, harus ada titik kompromi yang dicapai. Pembagian porsi dan toleransi sewajarnya bisa bertemu di tengah sehingga semua sama-sama enak. Ada satu kecenderungan buruk yang terjadi beberapa tahun belakangan…

View original post 2,164 more words

hari buku sedunia. hari dimana saya tidak selesai membaca satu buku pun.

sepertinya… saya juga… ya, tepat begini.

sedikit catat

Hari ini hari buku sedunia, dan aku tak bisa menghitung berapa banyak buku yang kubaca tahun ini. Bukan karena terlalu banyak, tapi justru seingatku, jarang ada buku yang selesai kubaca. Pada malam hari, buku-buku itu gentayangan, jadi arwah penasaran yang mengganggu malam-malamku. Aku selalu berdalih, aku tidak membaca buku sampai selesai, tapi aku membaca yang lain: esai, artikel, puisi, cerpen, dan lain sebagainya.

Tapi tetap, harusnya kubaca bukuku. Mereka kerap menangis diam-diam saat kutinggalkan di tengah-tengah. Seperti percintaan yang kandas di tengah jalan, seperti cumbu yang diinterupsi, seperti berhenti makan pada saat kau belum juga merasa kenyang. Mereka merasa dicampakkan. Terkadang ada dari mereka yang berteriak dalam mimpiku:

“Kau harusnya membacaku, kini aku tidak lagi dibakar dan dibredel. Kau perempuan tidak tahu diuntung, dulu orang-orang mencariku, ingin membacaku, tapi mereka tidak bisa menemukanku, sekarang kau hanya tinggal mengambilku dari rak dan membacaku, berbincang denganku. Aku kesepian di rak bukumu. Aku…

View original post 498 more words

Jujur dalam Membaca Sejarah Kelam 1965-66

pentingnya tidak mempercayai sejarah secara mentah-mentah dari buku semasa sekolah.

The World of Papskido

Mereka yang pernah merasakan hidup di masa Orde Baru (1967-98) pasti ingat betul dengan pengalaman menonton film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI. Film karya Arifin C. Noer yang diproduksi tahun 1984 ini oleh negara dijadikan film yang wajib ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia. Sebagai realisasinya, film tersebut kemudian ditayangkan oleh TVRI pada setiap tanggap 30 September waktu tengah malam tiap tahunnya bertepatan dengan waktu dimana peristiwa G30S terjadi.

Menurut narasi sejarah resmi dari negara, peristiwa 30 September 1965 menyisakan luka bangsa yang sangat mendalam. Pada tengah malam waktu itu tujuh perwira Angkatan Darat ditangkap oleh pasukan Cakrabirawa yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Konon semalam suntuk hingga dini hari para perwira tersebut disiksa secara sadis (dipukul, disilet, disunut rokok, matanya dicungkil, dsb.) kemudian mereka dibunuh dan jasadnya dibuang ke sebuah sumur mati yang kini dikenal dengan sebutan ‘Lubang Buaya’. Setelah dibuang ke dalam sumur, para tentara PKI kemudian memberondong sebagian jasad…

View original post 2,518 more words

“How’s your life lately?”

Akhirnya… akhirnya merasakan ada di posisi yang kalau ketemu orang, pasti ditanyain, “Tasya udah selesai belum?” “kapan nih lulusnya?” , well yeah, that sucks. Menyebalkan karena memang pada akhirnya, (mutlak) karena kemalasan, saya terlambat satu semester untuk lulus. Ya, hingga tulisan ini diangkat, skripsi saya belum juga selesai. Menyedihkan… Perlakuan orang sekitar kepada saya yang terlambat 2 bulan rasanya sama seperti saya lulus dalam 6 tahun…

Tapi yang menjadi kegusaran hari ini adalah pertanyaan lanjutan dari fase skripsi -> sidang -> lulus -> wisuda. Yaitu pernyataan, “siap-siap udah mau dilamar nih!” yang mulai sering terdengar ditelinga. Yep, pernikahan. Gusti…. umur saya masih 22 sampai Mei mendatang. Tidak mengapa bila usia ini dikaitkan dengan kebiasaan jelek saya membuang-buang waktu yang mungkin kedepannya akan sangat berefek buruk pada fase saya akan bekerja, membangun karier, dan mencapai target sukses, bila dan hanya bila saya tetap seperti ini dan tak mau berubah, bahkan setelah baru saja  (beberapa hari lalu membaca buku motivasi hidup dari Merry Riana. Sepertinya akan jadi menyenangkan bila orang lain kemudian gatal ingin memberi saya wejangan atau tips and trick dalam memanfaatkan usia produktif saat mendengar jawaban “umur saya 22 tahun.” dibandingkan bila mereka lalu menjatuhkan vonis bahwa waktu saya tersisa hanya 3 tahun lagi dalam pencarian jodoh sebelum lalu akan ada cap ‘perawan tua’. Ibu-ibu maupun tante-tante itu menyeramkan sekali…

Omong-omong pernikahan dan impian berkeluarga, saya ingat akan diri yang semenjak bangku SMP sudah memimpikan menikah dalam usia muda. Ya, betul. Tanyakan teman SMP dan SMA, maka mereka tahu betul saya yang selalu ingin menikah muda di usia awal 20an. Tapi setelah kuliah begini, keinginan itu lenyap sepenuhnya.. Berganti angan berkeluarga di usia akhir 20an. Alasan? Banyak sekali… saya bukan anak ‘mahal’ dari lahir ataupun OKB, sehingga sampai umur segini pun, masih banyak tempat yang belum dikunjungi, masih banyak pemandangan alam yang belum dilihat, masih banyak pengalaman melihat dunia luar yang belum dirasakan. Jelas masih banyak yang ingin dilakukan saat tubuh ini belum berubah total. Jadi ingat perbincangan dengan dosen pembimbing beberapa hari lalu. Beliau bilang saat sudah berkeluarga dan punya anak, tubuh perempuan sudah bukan miliknya lagi. Beralih fungsi jadi untuk kepentingan anak-anaknya juga, untuk suaminya juga sih pastinya. Hamil, melahirkan, menyusui, membesarkan anak bukannya tidak pernah terlintas di pikiran; tetapi menurut saya, usia 20an ini sepatutnya dimaksimalkan dengan kondisi anak muda yang fisiknya masih amat kuat melebihi yang mereka pikirkan.

Rasanya tidak nyaman sekali ketika seorang teman ibu saya dari masa lalu yang kami temui disebuah acara keluarga berkomentar kalau punya target menikah lewat umur 25 tahun, harga ‘diri’ saya akan terus turun dan jatuh. Kalau tidak mengingat ada ibu saya disitu, rasanya menjawab “pikiran tante sempit sekali” akan terasa pantas, ugh. Kenapa? kenapa sampai ada pemikiran begitu? ditambah lagi dengan pengalaman tidak hanya sekali saya juga mendapat nasehat untuk mencari pasangan yang berusia lebih tua , sudah lebih dulu mapan, sehingga saya bisa menikah di usia yang kata mereka “ideal”. Tidak ada yang salah sih dengan pemahaman bahwa usia pasangan yang lebih tua merujuk kepada finansial mereka yang akan lebih dulu mapan, bila dibandingkan dengan pasangan yang sebaya, karena saya harus menunggu proses ia merintis karir dulu.

Tetapi kenapa dari sekian banyak nasehat, kenapa tidak ada yang menyarankan saya juga sebagai perempuan baik adanya bila mandiri secara finansial, sukses, dan meraih pendidikan tinggi? terlepas dari persoalan menikah pada umur berapapun dan dengan pasangan berumur berapapun.

Aneh yaaaa…….. Akan semakin aneh bila suatu hari konsep ini (bisa saja) meluncur dari mulut ibu saya… Uh, mimpi buruk.

Muddy Drawers and Honeysuckle: The Sound and the Fury’s Caddy Compson

untuk kepentingan skripsiku…

thoughtful.thinking.thoughts

I’m going to start off by saying that I’m going to try to keep this essay sane and rational. Which might be hard, because Caddy Compson is my favorite character of all time. Not just in books, but in television, movies, plays, everything. I think she’s the most fascinating, beautiful, heartbreaking thing that a writer has ever managed to create. So I apologize if this starts to sound mildly insane. I just really love Caddy.

It’s not an abnormal thing for an author or filmmaker to make its central character appear only in flashbacks. But what William Faulkner did with Caddy Compson, the most important character in The Sound and the Fury was rather unique. Not only is Caddy a character who only appears in flashbacks, but these flashbacks are told through the eyes and minds of her brothers, perhaps the three most Unreliable Narrators ever. Caddy only appears in…

View original post 2,472 more words

Twenty Somethings, Go Make Yourself Useful.

kira-kira biaya hidup selama 20tahun anak hidup di Jakarta…. Rp. 293.519.012,-

Fellexandro Ruby

Relaxing Feet (by slworking2)

Kalau usia lo kepala dua dan berada dalam salah satu kategori ini:
(1) Sedang kuliah, jobless, lo pikir memang waktunya lo menikmati hidup
(2) Sudah lulus kuliah, jobless, dan masih menikmati hidup
(3) Kuliah gak lulus lulus, jobless, dan taunya cuma menikmati hidup
(4) Sudah kerja, tapi masih aja menikmati hidup doang
(5) …. alias ga jelas hidupnya

Gue pengen mengajak lo untuk bermain matematika simple sebentar. Lo suka main kan? Yuk, kita hitung-hitung kira-kira semenjak kita lahir sampe usia kita sekarang udah berapa banyak duit yang diinvestasikan orang tua ke dalam hidup kita. Gue juga baru kali ini ngitung. Penasaran cuy.

BERHITUNG GOBLOK
Supaya simple dan gampang hitungnya, katakan saja sudah 20 tahun kita hidup di dunia, maka hitungan gobloknya kurang lebih seperti ini, dengan level mediocre, alias hidup pas-pasan.

Biaya operasi kelahiran : Rp. 8.500.000,-
Anggap aja lahir normal, RS Bunda, kelas 3. Info sesuai link ini)

View original post 1,185 more words

7 Things That Will Ruin Any Relationship In Your 20s

hail 20++, all hail relationship

Thought Catalog

1. Motivation levels.

It’s not that one of you having a Great Big Important Job while the other doesn’t know what they want to do is an automatic problem. It’s just that it often represents a deeper level of motivation to do and achieve things at a certain age which is not automatically shared by everyone around you. There are certain people who are happy doing more simple things, and there are people who want to use their 20s to create something difficult but important. And that difference unfortunately leads to resentment, envy, misunderstanding, and a distinct feeling of being held back. Motivation levels are hugely important, even if we don’t want to talk about them.

2. Social activities.

How much the two of you are respectively still going out and drinking, and how much your social life looks like it did when you were in college, are going to…

View original post 631 more words

Gabriele Gets Her Self-Authority Controlled by Other Man Characters in Thomas Mann’s Tristan

Tristan by Thomas Mann

Tristan by Thomas Mann is a descriptive novella where it begins the plot with description of the building (the setting) within first paragraph. The narrator is a third person point of view; it knows a lot of information about the character but from the length, details, and dictions of explanation narrator gives, we can see its act and side towards the characters. Narrator knows Spinell best, though the description of him is not good, but narrator can explain his thought and perception which other characters do not know. On the other side, the narrator has special attitude toward Gabriele as the main woman character. It gives good description which clearly explains the elegance yet delicateness of her.

In the first part of story, narrator explains about several minor characters. It is very details in appearance and the activities they usually do in Einfried, the sanitarium which does not like a place for people who get serious illness. It is more a place for high class society in Europe who wants to spend their time far away from the city. Read more

Desa Candrajaya dan Mahasiswi Sastra Inggris

bagi ilmu di SDN Candrajaya II

“Ini cerita saya, apa ceritamu?”

Selama 31 hari saya menjalani KKNM bersama 18 teman lainnya yang berasal dari berbagai fakultas. Kami memilih lokasi di sebuah Desa bernama Candrajaya, kecamatan Sukahaji, kabupaten Majalengka. Dengan tujuan memenuhi tugas individual KKN, saya ingin berbagi pemikiran tentang desa yang saya tinggali selama sebulan penuh ini (karena saya tidak memakai jatah kepulangan 3 hari) dan apa yang saya rasakan tepat di hari ke-26 ini. Saya tidak memakai konsep dan judul “Jika Saya Menjadi Warga Candrajaya” karena menurut pendapat saya, sampai kapan pun saya tidak akan pernah bisa mencoba memahami, membayangkan, menempatkan diri secara tepat sebagai warga desa Candrajaya karena memang tempat ini bukan darimana saya berasal, dan juga adalah tempat yang asing buat saya. Sehingga saya akan menjelaskan desa Candrajaya dari segi pendidikan yang berhubungan dengan studi saya sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya.

Desa Candrajaya terdiri dari lima blok desa yaitu, Blok A, Blok B, Blok C, Cugantang, dan Pabuaran. Desa memiliki fasilitas yang cukup memadai seperti balai desa, beberapa masjid, sekolah, madrasah, PAUD, posyandu, dan banyak warung kecil. Sebagian besar warga bermatapencaharian sebagai buruh tani. Hanya beberapa yang mempunyai sawah. Sisanya adalah wirausahawan dan guru sekolah.

Hal yang paling menyenangkan selama KKN bagi saya adalah saat mendapat kesempatan mengajar di SDN I dan II Candrajaya bersama mahasiswa lainnya. Saya dipercayakan untuk mengajar pelajaran Bahasa Inggris, dan hal ini berkaitan erat dengan pendidikan yang saya tempuh di perguruan tinggi walau bukan berarti sastra inggris itu belajar untuk mengajar bahasa inggris. Tetapi para guru di SDN Candrajaya pun mengakui bahwa kelemahan terbesar mereka adalah kurangnya tenaga pengajar bahasa inggris, sehingga saya merasa bersyukur bisa membantu banyak dengan ilmu kuliah saya. Read more

Laporan Pribadi Kegiatan KKNM Candrajaya

Fakultas Ilmu Budaya
Jurusan Sastra Inggris
Jatinangor
2013

logo

Pendahuluan

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk kegiatan yang memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk hidup ditengah-tengah masyarakat jauh di luar kampus. KKN dilaksanakan oleh perguruan tinggi dalam upayanya meningkatkan misi dan bobot pendidikan pada mahasiswa untuk mendapat nilai tambah yang lebih besar pada pendidikan tinggi.

KKN ( Kuliah Kerja Nyata) dilaksanakan di masyarakat di luar kampus dengan tujuan untuk meningkatakan relevansi pendidikan tinggi dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan. Bagi mahasiswa kegiatan KKN merupakan pengalaman belajar baru yang tidak diperoleh di dalam kampus. Dengan selesainya KKN mahasiswa memiliki pengetahuan , kemampuan dan kesadaran baru tentang bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Secara sosiologis, interaksi sosial merupakan kebutuhan yang paling mendasar dalam menjalankan proses hidupnya. Sedangkan dalam psikologi, interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, yang membentuk suatu kehidupan bersama. Diperlukan beberapa syarat demi tercapainya suatu interaksi sosial, yaitu kontak sosial dan komunikasi sosial. Jika proses interaksi sosial tidak terjadi secara maksimal, maka dapat dipastikan adanya faktor-faktor penghambat maupun syarat-syarat demi tercapainya interaksi sosial yang tidak terlaksana. Click here for more

Death as an Unspoken Thing becomes the Main Issue in The Sisters by James Joyce

 

The Sisters

The Sisters first published in 1904 within Dubliners, and then James Joyce revised it ten years later. The book, Dubliners asserts the nationality of the author; and the story itself has a strong influence by the Irish. The Irish people in The Sister are depicted as religious citizens and really attached to the Catholic rules at that time. Since one of the main characters is a reverend, the setting, background, and the plot of the story follow the Catholicism. These things built the story and turned up some conflicts yet issues within.

This story uses first nameless person point of view in telling the plots. He has no direct relation with The Sisters which is the title. They both refer to Nannie and Eliza, the sisters of Father Flynn. The relation between ‘I’ and the sisters is bridged by the Father. He is perhaps one of Father Flynn’s student or maybe someone who studies to be a reverend. Read more

The Garden Party by Katherine Mansfield

The Garden Party

The Garden Party is a story of a family who held a party. As I can see from some passages which I explain later, class becomes a main topic here. Meanwhile, I cannot see clearly whether the Sheridans are upper or middle class, but in my opinion they are middle-class because of the worker father, ‘or shall I have to tell your father when he comes home tonight?’ The setting perhaps is in New Zealand. As written in the passage ‘Against the karakas, then the karaka-trees would be hidden’. It is endemic to New Zealand by Maori (wikipedia). Mansfield was born and brought up in New Zealand. The style of writing in The Garden Party uses past tense because the events are over and the narrator only re-tells it. The story is told by third person omniscient point of view. It knows what happened in everywhere, for example in every part of the house and in the lane. It also knows the character’s thoughts. For instance, it knows what Laura was thought as ‘How many men that she knew would have done such a thing? Oh, how extraordinarily nice workmen were, she thought.’

Laura appeared several times as she was the one who had responsibility in arranging the garden party. Laura’s idea, action, and perspective play an important role here. Through Laura I can see there is difference in some person. It was indicated from, ‘Laura upbringing made her wonders for a moment whether it was quite respectful of a workman to talk to her of bangs slap in the eye.’ And ‘something that was to be looped up or left to hang, of these absurd class distinctions.’ It was about her and the tallest workmen and I presume there was an attraction within. It began from her first sight of the workmen. ‘His smile was so easy, so friendly that Laura recovered. What nice eyes he had…’ and ‘Why couldn’t she have workmen for her friends rather that the silly boys she danced with… She would get on much better with men like these.’ Laura saw a new image of man; she compared the lower class man with her middle class fellow. She knew there are classes in life and disagreed with it ‘It’s all the fault, she decided… of these absurd class distinctions.’ Laura tried to break the rules and made a connection with the other class, such as regarding the four men as impressive worker, paying attention to them, and caring the neighbour outside the front gate, ‘When the Sheridans were little they were forbidden to set foot there… but since they were grown up, Laura and Laurie on their prowls sometimes walked through.’ Meanwhile, she didn’t really want to jump the bounds. When Laura and Laurie walked to the lane, ‘It was disgusting and sordid. They came out with a shudder.’ She felt sympathetic for the neighbour, ‘But it all seemed blurred, unreal, like a picture in the newspaper’ She finally visited the cottages to deliver her empathy but she felt not belong there, ‘It was a mistake to have come; she knew all along it was a mistake. Should she go back even now?’ There is a contradiction within herself as she was also clashing with her mom and Jose, ‘Again, how curious, she seemed to be different from them all’ and ‘Here she was going down the hill to somewhere where a man lay dead, and she couldn’t realize it… She had no room for anything else. How strange! …’

There was a gap between the big house of Sheridans and the little cottage, ‘True, they were far too near. They were the greatest possible eyesore, and they had no right to be in that neighbourhood at all’ (the cottage by the narrator). ‘They’d hear us, mother; they’re nearly neighbours!’ (the cottage by Laura). ‘The chap was married too. Lived just below in the lane’ (the cottage by Mr. Sheridan). I also see an obvious disparity between the big house of Sheridans and the little cottage as life and death. Life was represented by the garden party which were alive, beautiful morning, loud voices, laughter, couples strolling, flowers, happiness, tinkling spoons, kisses, ideal weather. Whereas death was represented by the little cottage which was gloomy, pale sky, poverty-stricken chimney, smoky and dark lane, sordid, disgusting, old, unreal. The moment when Laura stepped out of life (her house) and stepped into death (the cottage) was not easy. People stared at her because of her appearance and she realized it, that she was different. The time when Laura came into the bedroom to see the dead man is crucial. She saw a real body of death. ‘There lay a young man, fast asleep—sleeping so soundly, so deeply, that he was far, far away from them both. Oh, so remote, so peaceful. He was dreaming…. What did garden-parties and baskets and lace frocks matter to him? He was far from all those things. He was wonderful, beautiful. While they were laughing and while the band was playing, this marvel had come to the lane. Happy… happy… This is just as it should be. I am content. ’ Death suppose to be dreadful, but Laura used words ‘wonderful and beautiful’ to describe the dead man, ‘marvel’ to describe death. In contrast, ‘But all the same you had to cry … Laura gave a loud childish sob.’ This death was like an unexpected reality than what she had fancied before.

Sesat Pikir dalam Wacana Iklan Majalah Remaja Perempuan

Ini adalah analisis saya terhadap lima iklan produk yang terdapat di dalam beberapa majalah remaja perempuan dari edisi yang berbeda-beda. Saya mencurigai terdapat beberapa pola sesat pikir dalam struktur iklan tersebut.

  • Mustika Puteri Roll-on
  • Biore Body Foam
  • Laurier Soft Care
  • Red A Lip Balm
  • Good Day Coffee

1) Analisis iklan pertama

Iklan: Mustika Puteri
Produk: Roll-on

Iklan selalu hidup dan berada kapan saja dan di mana saja dalam kehidupan kita. Di Indonesia, pada masa perkembangannya, bentuk iklan ber-sandar pada bahasa verbal yang tertulis dan tercetak. Dalam tulisan yang tercetak, setiap kalimat adalah suatu pernyataan yang bisa diuji ulang, dicari relevansinya dengan kenyataan yang diacu dan arah logikanya secara guna menguji koherensinya. Tetapi, bahasa yang dipergunakan dalam iklan di media massa dan elektronik seringkali tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang baik dan benar.

Iklan memerlukan tampilan yang dikemas dengan bahasa membumi, kontekstual, dan ‘gaul’. Kondisi ini yang menye-babkan ada keprihatinan pada banyak kalangan. Ada yang berpendapat bahwa bahasa iklan tidak mesti sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi belum ada kriteria bagaimana sebaiknya bahasa iklan tersebut.

Contoh pertama adalah sebuah iklan pada sebuah majalah perempuan muda yang menjual sebuah produk untuk ketiak. Produk Mustika Puteri adalah produk dalam negeri tetapi tampak pada penggunaan kata, iklan ini memasukkan beberapa kata asing kedalam kalimat iklannya. “Hey Girls! Jangan Ngaku ’Girly’ Kalo Keti Gak Wangi”. Begitu pula image yang digunakan adalah perempuan remaja berbaju minim dan berdandan-an funky ala remaja Barat, bukan image perempuan remaja Timur (Indonesia).

Iklan ini menyebut pembaca secara spesifik dengan ‘Girls’ dan menggunakan bahasa gaul seperti ‘ngaku’. ‘kalo’, ‘gak’. Ini adalah sebuah produk perawatan badan yaitu deodorant roll-on dan iklan ini menggunakan kata ‘keti’ untuk menyebutkan kata ketiak. Penggunaan kata yang tidak baku dan diciptakan sendiri agar terdengar lebih anak muda. Click here for more

How the Sexuality is Presented to Assert the Different Signification of it in Three Short Stories through Comparison Study

Human as man and woman have a sexual urge to physically unite with the same sex, opposite sex, or either sex for releasing their desire which means ‘sense of lust (mid-14c)’ according to Online Etymology Dictionaries or ‘strong wish to have or to do something or want somebody or something very much’ according to Oxford Dictionary. This thing has something to do with sexuality, a thing that always relates to living things; as I looked up to Oxford Online Dictionary, it has three meanings

  1. [mass noun] Capacity for sexual feelings
  2. [count noun] a person’s sexual orientation or preference
  3. Sexual activity

Meanwhile, according to Oxford Dictionary, it means feelings and activities connected with a person’s sexual desires.

I choose three short stories consist of Graham Joyce’s ‘Pinkland’ which is about ethereal lovers described the relation of two main characters, Sammy and Nat, Poppy Z Brite’s ‘Enough Rope’ who told us about a girl who described herself as “a gay man that happens to have been born in a female body, and that’s the perspective I’m coming from.” (1998:18), and ‘Down the Clinical Disco’ by Fay Weldon which is about two person as true love for each other at Broadmoor to analyze the significance of sexuality throughout the stories.

Sexuality is understood differently among the three short stories and I use the comparison study in how the sexuality is presented to see the difference. In my opinion, the showing of sexuality in stories or sexuality as the theme produces sexual desire that later relates the main character with other characters also the sexuality with other things. Read more