The Wife of Bath’s Tale

The Wife of Bath

Canterbury Tales adalah sekumpulan cerita yang ditulis oleh Geoffrey Chaucer pada akhir abad ke 14 dalam Middle English. Canterbury tales dibuka dengan cerita setiap pilgrim yang memulai perjalanan mereka ke Canterbury, ke tempat suci dari Thomas Becket. Mereka memutuskan untuk bercerita untuk mengisi waktu saat berkumpul di Tabard Inn. Tuan rumah dari Tabard Inn mengatur peraturan untuk ceritanya. Setiap pilgrim akan bercerita dua kisah dalam perjalanan menuju Canterbury dan dua lagi saat kembali. Tuan rumah juga akan memutuskan siapa yang terbaik dan sang ksatria mendapat kehormatan untuk memulai cerita.

Salah satu dari para pilgrim adalah The Wife of Bath. Sang istri ini memulai ceritanya dengan distertasi yang panjang mengenai pernikahan, dan ia menceritakan tentang pernikahannya dengan lima suaminya. Tiga suami pertamanya adalah lelaki-lelaki tua yang akan ia paksa meyediakan semua kebutuhannya, juga menggunakan cara menolak untuk bercinta ataupun dengan rasa bersalah. Dua suami terkahirnya lebih muda dan lebih susah untuk dikendalikan. Suami terakhirnya adalah Jankin, berusia 20 tahun, setengah dari sang istri. Jankin agak menyusahkan karena ia menolak untuk didominasi oleh istrinya dan sering membaca kesusastraan tentang wanita yang bersikap tunduk.

Suatu saat ketika sang istri merobek salah satu buku Jankin, Jankin memukulnya dan mengakibatkan sang istri tuli pada salah satu telinganya. Bagaimanapun, Jankin amat sangat merasa bersalah karena kejadian tersebut. Setelah kejadian itu, Jankin menjadi sangat tunduk kepada sang istri dan mereka hidup bahagia.

Kisah sang istri sendiri, yang ia ceritakan di Tanbard Inn, berisi tentang dinamika pernikahan. Kisah ini dimulai pada jaman kerajaan Raja Arthur, beliau mempunyai seorang ksatria yang akan dihukum mati karena memperkosa seorang wanita muda. Ia bertahan karena sang ratu. Beliau akan membebaskan ksatria asalkan ia dapat menjawab pertanyaan ratu mengenai apa yang diingini oleh para wanita. Ksatria tidak dapat memberi jawaban yang memuaskan hingga suatu waktu ia bertemu seorang wanita tua yang berjanji akan dapat memberi jawaban akan pertanyaan sang ratu dengan syarat ksatria harus menikah dengannya. Ksatria setuju dan akhirnya mendapat pembebasan dari hukuman setelah menjawab bahwa para wanita ingin kedaulatan atas suami mereka. Bagaimanapun juga, ksatria tidak puas dan kesal karena harus menikah dengan seorang wanita tua yang buruk rupa. Oleh karena itu si wanita tua berkata, ksatria boleh memilih mau menikahinya sebagai wanita tua yang buruk rupa tapi tunduk pada suami atau dia sebagai wanita muda yang cantik tapi berkuasa dan dominan. Akhirnya ksatria memilih menikahinya sebagai wanita muda, dan walaupun sang wanita mempunyai wewenang lebih dalam pernikahan mereka, tetapi pada akhirnya mereka berdua hidup bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s