“How’s your life lately?”

Akhirnya… akhirnya merasakan ada di posisi yang kalau ketemu orang, pasti ditanyain, “Tasya udah selesai belum?” “kapan nih lulusnya?” , well yeah, that sucks. Menyebalkan karena memang pada akhirnya, (mutlak) karena kemalasan, saya terlambat satu semester untuk lulus. Ya, hingga tulisan ini diangkat, skripsi saya belum juga selesai. Menyedihkan… Perlakuan orang sekitar kepada saya yang terlambat 2 bulan rasanya sama seperti saya lulus dalam 6 tahun…

Tapi yang menjadi kegusaran hari ini adalah pertanyaan lanjutan dari fase skripsi -> sidang -> lulus -> wisuda. Yaitu pernyataan, “siap-siap udah mau dilamar nih!” yang mulai sering terdengar ditelinga. Yep, pernikahan. Gusti…. umur saya masih 22 sampai Mei mendatang. Tidak mengapa bila usia ini dikaitkan dengan kebiasaan jelek saya membuang-buang waktu yang mungkin kedepannya akan sangat berefek buruk pada fase saya akan bekerja, membangun karier, dan mencapai target sukses, bila dan hanya bila saya tetap seperti ini dan tak mau berubah, bahkan setelah baru saja  (beberapa hari lalu membaca buku motivasi hidup dari Merry Riana. Sepertinya akan jadi menyenangkan bila orang lain kemudian gatal ingin memberi saya wejangan atau tips and trick dalam memanfaatkan usia produktif saat mendengar jawaban “umur saya 22 tahun.” dibandingkan bila mereka lalu menjatuhkan vonis bahwa waktu saya tersisa hanya 3 tahun lagi dalam pencarian jodoh sebelum lalu akan ada cap ‘perawan tua’. Ibu-ibu maupun tante-tante itu menyeramkan sekali…

Omong-omong pernikahan dan impian berkeluarga, saya ingat akan diri yang semenjak bangku SMP sudah memimpikan menikah dalam usia muda. Ya, betul. Tanyakan teman SMP dan SMA, maka mereka tahu betul saya yang selalu ingin menikah muda di usia awal 20an. Tapi setelah kuliah begini, keinginan itu lenyap sepenuhnya.. Berganti angan berkeluarga di usia akhir 20an. Alasan? Banyak sekali… saya bukan anak ‘mahal’ dari lahir ataupun OKB, sehingga sampai umur segini pun, masih banyak tempat yang belum dikunjungi, masih banyak pemandangan alam yang belum dilihat, masih banyak pengalaman melihat dunia luar yang belum dirasakan. Jelas masih banyak yang ingin dilakukan saat tubuh ini belum berubah total. Jadi ingat perbincangan dengan dosen pembimbing beberapa hari lalu. Beliau bilang saat sudah berkeluarga dan punya anak, tubuh perempuan sudah bukan miliknya lagi. Beralih fungsi jadi untuk kepentingan anak-anaknya juga, untuk suaminya juga sih pastinya. Hamil, melahirkan, menyusui, membesarkan anak bukannya tidak pernah terlintas di pikiran; tetapi menurut saya, usia 20an ini sepatutnya dimaksimalkan dengan kondisi anak muda yang fisiknya masih amat kuat melebihi yang mereka pikirkan.

Rasanya tidak nyaman sekali ketika seorang teman ibu saya dari masa lalu yang kami temui disebuah acara keluarga berkomentar kalau punya target menikah lewat umur 25 tahun, harga ‘diri’ saya akan terus turun dan jatuh. Kalau tidak mengingat ada ibu saya disitu, rasanya menjawab “pikiran tante sempit sekali” akan terasa pantas, ugh. Kenapa? kenapa sampai ada pemikiran begitu? ditambah lagi dengan pengalaman tidak hanya sekali saya juga mendapat nasehat untuk mencari pasangan yang berusia lebih tua , sudah lebih dulu mapan, sehingga saya bisa menikah di usia yang kata mereka “ideal”. Tidak ada yang salah sih dengan pemahaman bahwa usia pasangan yang lebih tua merujuk kepada finansial mereka yang akan lebih dulu mapan, bila dibandingkan dengan pasangan yang sebaya, karena saya harus menunggu proses ia merintis karir dulu.

Tetapi kenapa dari sekian banyak nasehat, kenapa tidak ada yang menyarankan saya juga sebagai perempuan baik adanya bila mandiri secara finansial, sukses, dan meraih pendidikan tinggi? terlepas dari persoalan menikah pada umur berapapun dan dengan pasangan berumur berapapun.

Aneh yaaaa…….. Akan semakin aneh bila suatu hari konsep ini (bisa saja) meluncur dari mulut ibu saya… Uh, mimpi buruk.

Advertisements